Minggu, 14 April 2013

Kebahagiaan Social Media



Ketahuilah. Aku merasa kehilangan, kehilangan sesosok yang tidak pernah membuatku bosan, selalu memunculkan ide-ide untuk memancing rindu.
Kini aku sadar aku bukan siapa-siapa kamu. Namun masih tersimpan banyak memori disini, memori yang sulit kujelaskan waktu dulu aku merasakan semua kebahagiaan. Dulu aku merasa bahagia saat kita saling memperhatikan, yaa walaupun hanya sebatas via social media. Aku bahagia saat kamu bangunin sholat. Kamu chat-chat beberapa kali sampe aku kebangun. Itu manis!
Inilah kebahagiaan dimensi tiga yang sulit diterjemahkan, sering kupandangi razi bintang dikitab yang terbentang ini. Langit. Karna mungkin hanya langit yang membuat kita satu disamping kerinduan-kerinduan bertatap muka diantara kita. Ingat ga dulu kamu sering kirim vn ke aku? Disana aku sudah bisa merasa menjadi orang yang paling bahagia saat itu, hanya pake modal suara imut kamu.
Kamu wanita paling jago. Jago bikin senengnya, jago bikin keponya, jago juga bikin penasarannya. Eh sama aja ya? Ya pokoknya kamu jago.
Tapi sekarang semua semu, menyemu perlahan-lahan dan mematikan perasaan, menumbuhkan rindu yang terikat erat, aku gaktau apa sebabnya. Kesemu-an terjadi begitu saja tanpa memberi aku kesempatan untuk mencari yang lain. Kamu membiarkan aku berusaha dalam ke-diam-anku.
Rindu tetap tertarik erat oleh semesta yang belum memberi kesempatan untuk kita. Saat api mars dan angin Pluto berhembus dan membawa  kamu pergi aku sadar mereka meninggalkan sesuatu yang lebih dari kamu. Kamu pergi tapi kamu lupa bawa rindu ini pergi dan sampai akhirnya rindu ini terkorosi hanya menjadi memori. Kenanangan. Indah memang tapi ya gitudeh … abstrak!

Rabu, 30 Januari 2013

Ini Tujuan kita


Tidak sedikit dari mereka yang menjadikan perpisahan tujuan akhir dari perjuangan mereka. Bukan saling menciptakan saling kepercayaan dalam hubungan melainkan menjalankan hidup bagai sketsa novel yang sudah diatur alur cerita, letak konflik, titik klimaks konflik dan akhir dari novel tersebut. Dan sudah piawai melakoni perannya masing masing
 Manusiawi ngucapin kata kata cinta diawal-awal pendekatan,
mengucapkan
janji-janji manis yang [lagak] pasti, rencanain panggilan-panggilan sayang kelak sudah saling memiliki, mencari-cari[lagi] karna alasan jenuh atau bosan dan menggali masalah demi masalah ditengah-tengah jalannya hubungan, dan akhirnya kata “putus,pisah,gakcocok” yang memeluk kita didepan dengan erat.
awalnya memang kita rasa kalo kali [ini] yang benar-benar akhir dari pencarian kita. Tapi siapa tau jika waktu menjawab tidak, atau memang tidak ada keseriusan, nganggap hidup mainan kibulan semata. Yaa kan manusiawi bukan malaikatwi. Tapi ada kan manusia yang bisa serius menjalin hubungan. Iya ini manusia yang sudah lelah dengan pencarian. Jadi jangan anggap pacar kamu sekarang serius sama kamu.
Siapa tau dia …


Selasa, 23 Oktober 2012

Harusnya Utuh yang Aku Rasakan


perhatian mu memang sudah cukup bahkan lebih tapi aku ingin merasakannya utuh. Tidak ingin dibagi dengan siapapun. Ini bukan serakah tapi ini kewajiban. Mungkin kamu belum ngerti alasan ku apa? Atau memang kamu gak mau ngerti? Yaa semoga kamu bisa mengerti segera, ini bukan paksaan jika kamu merasa ini kekangan dan bukan juga hal yang mudah di remehkan melainkan salah satu anjuran agar kita bisa menjalin hubungan yang jauh dari kata “cemburu”. Banyak orang bilang cemburu bukan lah apa-apa bagi cinta melainkan hal yang harus ada pada saat cinta itu ada.
Namun ini semua bukan  cemburu yang menggema, tapi bagaimana cara kamu menggunakan perhatiaanmu dengan benar agar cinta kita saling terisi penuh.
aku takut. Takut jika sewaktu-waktu keadaan berubah. Bukan kurang utuh lagi yang kurasakan.Tapi tidak utuh dan lenyap seiring bunyi detik waktu. Tak ada yang mengira bukan jika kamu sudah merasa terkekang dengan obsesi-obsesi dan ketakutanku dan akhirnya kamu lebih memilihnya. Mungkin orang-orang pernah mengira dan merasakan bahwa kadang cinta itu saat digunakan untuk mencintai orang dengan setengah utuh bisa pergi pada hitungan waktu, entah singkat atau lambat. Dengan alasan yang tidak dapat diungkap dan tidak ada kejelasannya. Dan itu saatnya ada orang baru yang mulai terlihat, ya mau gimana lagi? Bisa berbuat apa kalau sudah begini? Menghalangi? Iya kalo dia tau maksut kita apa. Biarpun kita sudah berusaha tapi kalo sudah ada kalimat “kayaknya kita sudah ga cocok deh” terucap, mau apa coba? Memang klasik kalimatnya tapi dia gk pernah tau bagaimana perasaan kita sebagai pendengar kalmat ini. Yang dia tau hanya perasaan sebagai pengucap. Mungkin ini yang disebut namanya  adil[sepihak]
Yahh sabar aja kamu-kamu yang pernah ngerasain hal ini. Jangan terpuruk. Langsung aja cari diantara [mereka] yang bisa ngasih kamu dengan utuh.


Menunggu,Bersabar,Beriman,dan Berbahagia


Menunggu tanpa berusaha sama saja dengan hampa, ku tunggu kamu mengucapkan kata indah itu,indah bila diucap dari lekukan bibirmu , walaupun tanda-tanda hal itu tidak pernah terlihat di bola mataku(sedikitpun) tapi apa yang terjadi? Aku tetap mengamatimu, perhatikan setiap tingkah anehmu yang senada dengan putaran jarum jam yang tidak berhenti sampai tenaga batre ini habis. Lelah,letih,bosan, sudah seperti pemandangan yang tidak asing lagi. Sering tenaga ini habis tapi banyak hal yang menjadi alasanku untuk tetap menunggumu, entah ini rasa obsesi kagum semata atau benar-benar cinta yang akan saya jadikan alasan.
bukan alasan semata-mata yang mengokohkan bangunan komitmen ini, namun juga sebagai pondasi nanti jika saya sudah merdeka, merdeka dalam hal saya sudah berhenti menunggu, berhenti berjuang, dan ketika saya menyatakan proklamasi yang menempuh berapa kali putaran jarum jam ini,
tidak sedikit insan berargumen, menununggu hanyalah hal bodoh, hal sia-sia, dan banyak dari mereka yang menarik saya dari hal ini, namun dengan kokoh saya tetap membangun pondasi saya untuknya(nanti). Karna saya tahu menunggu yang saya alami bukan hanya menunggu ucapan yang saya tuju, tapi melainkan menunggunya melepaskan,membuang,dan membakar sampai benar-benar kosong tak berisi perasaan dalam hatinya untuk seorangpun, dan disaat itulah usaha saya akan dimulai, usaha mengisi, menghadirkan, sesosok yang baru, yaitu sesosok diri saya yang sudah memahaminya sejak saya punya rasa untuk ingin mengenalnya.
namun saya tidak sepercaya diri seperti mereka yang sudah berkebiasaan melakukan hal ini. Karna bukan rasa yang bisa dibagi yang saya tunggu, melainkan rasa yang utuh,penuh untuk saya. Bisa tidak bisa saya tetap yakin untuk membentuk itu semua, saya yakin bukan hanya sekedar yakin tapi saya juga mempunyai kunci dari perjuangan saya, yaitu “sabar dan iman” hanya orang yang meyakininya yang bisa menggunakan kunci ini. Dan saya yakin dengan bersabar saya bisa mendapatkan kemerdekaan yang seutuhnya. dan pastinya indah bukan buah dari kemerdekaan saya? – “sabar berakhir manis”

Selasa, 16 Oktober 2012

Ku Butuh Cahaya Penunjuk Arah Pena ku


mungkin kamu pernah merasakan yang saya rasakan? Sesuatu hal yang saya proyeksikan setiap pikiran kosong, yang mengubah kertas bertulisan,bergambar menjadi kertas bergaris polos yang  perlu saya coret-coret.
hal ini ada pilihan-pilihan hidup, kamu pasti punya pilihan hidup. Mungkin tidak sama seperti saya, tapi dalam beberapa detik ini ayo sengaja-kan menyamakan pilihan hidup kita dan bantu lah saya memilih pilihan hidup sesuai fakta yang mayoritas dialami kebanyakan penghirup oksigen di bumi kita.
ini lah yg saya proyeksikan setiap saat, hal yang mudah saya utarakan dan mudah juga membuat saya tidak bernilai di dalam hati berlian nya, iya saya menggemari nya sebagai sosok yg hebat untuk menempati beberapa persen di otak saya, dan dia cukup hebat untuk mempertahankan daerah kekuasaan nya, entah kenapa? Tetapi bodohnya kenapa saya tidak berusaha mengusirnya, namun saya malah memberi celah beberapa persen lagi untuk dibangun tempat bersemayamnya, dan saya pun cukup khawatir jika dia sudah pergi karena kesibukan saya di akhir-akhir ini. Mungkin dia tidak pernah berfikir serakahnya dia. Sok berkuasanya dia, seperti semua area harus ada rambu-rambu tentang biodatanya. Oh menawan bukan?
di satu hal saya senang hal ini terjadi, tapi hal lain mengatakan dan terus bertanya-tanya “siapa dia? Siapa dia dimatamu? Sudah lupa ya status sosialnya di sampingmu?”  pertanyaan ini yang sering membawa angin kerusakan ditengah-tengah proyeksi indah saya, dan pertanyaan ini yang sering menghapus kembali gambaran-gambaran beberapa ekspresi mukanya yg telah saya gambar menipis. Ahh dasar wanita. Rumit, dan kadang membuat saya bodoh. LOL
di balik pilihan ini saya pun sudah membangun setengah jalan pilihan dengan seseorang yang tidak kalah hebatnya dengan wanita sebelumnya. Halaman demi halaman sudah saya coret coret dengan nya, lengkungan tinta pena yang indah kadang membuat saya yakin untuk menuliskan namanya di akhir halaman pada rangkaian kertas yg telah saya tulis. Dan akhirnya saya pun berusaha yakin dan berani untuk menuliskan namanya sekarang. Tapi saya sadar saya tidak menuliskan namanya pada halaman akhir, karna saya sering menengok atau memilah kembali isi halaman sebelumnya dan memaksa saya untuk membuat coretan-coretan yang lebih pasti tanpa memperhatikan pilihan saya sebelumnya. Ohya alasan saya memilih dan menuliskan namanya karna pilihan ini tidak pernah menanyakan pertanyaan yg rumit seperti pertanyaan yg dihadirkan pilihan pertama.
 Kadang saya berharap menapaki jalan yg berbeda dengannya setiap harinya, dan saya sengajakan berbeda arah dengannya, tapak demi tapakan kaki saya injakan untuk membuktikan apakah saya perlu menghapus tinta pena yg saya coretkan dengan indah pada kertas halaman sebelumnya. Dan nyatanya dengan hebatnya dia meyakinkan saya tidak perlu mengahapus coretan indah tersebut, malah dia mempertebal dengan warna-warna yg kontras untuk dilihat kembali,
Tapi serin fikiran terlintas bukan dia yang saya cari, dia bukan pilihan yang telah saya tuliskan kriteria nya. Dia tidak memenuhi tempat kosong dihati saya, dan ini yang membuat  saya membuka-buka kembali tulisan-tulisan saya, apakah ada yang salah? Yaa saat ini saya sedang labil, dan saya butuh cahaya  yg menunjukan arah tinta pena di kertas bergaris selanjutnya. Mungkin sulit untuk menghapus tulisan nama nya, dan mungkin juga ini pantangan untuk dilakukan, entah saya harus mencoret dengan coretan yg bisa menutupi namanya dengan kebiadaban saya dan tetap menuliskan nama nya atau saya langsung menghapus namanya dan menggantikan nya dengan nama yang sudah saya ajukan dan masih disimpan di otak saya?  Dan tentu saja diantara semua pilihan sudah menyiapkan panah dengan anak panah biji pisau yang sangat menyakitkan bila saya sudah menjatuhkan pilihan dan entah anak panah tersebut membidik siapa, melukai siapa? Dan siapa yang harus bertanggung jawab atas semua?