Ketahuilah. Aku merasa kehilangan, kehilangan sesosok yang
tidak pernah membuatku bosan, selalu memunculkan ide-ide untuk memancing rindu.
Kini aku sadar aku bukan siapa-siapa kamu. Namun masih
tersimpan banyak memori disini, memori yang sulit kujelaskan waktu dulu aku
merasakan semua kebahagiaan. Dulu aku merasa bahagia saat kita saling
memperhatikan, yaa walaupun hanya sebatas via social media. Aku bahagia saat
kamu bangunin sholat. Kamu chat-chat beberapa kali sampe aku kebangun. Itu
manis!
Inilah kebahagiaan dimensi tiga yang sulit diterjemahkan,
sering kupandangi razi bintang dikitab yang terbentang ini. Langit. Karna
mungkin hanya langit yang membuat kita satu disamping kerinduan-kerinduan
bertatap muka diantara kita. Ingat ga dulu kamu sering kirim vn ke aku? Disana
aku sudah bisa merasa menjadi orang yang paling bahagia saat itu, hanya pake
modal suara imut kamu.
Kamu wanita paling jago. Jago bikin senengnya, jago bikin
keponya, jago juga bikin penasarannya. Eh sama aja ya? Ya pokoknya kamu jago.
Tapi sekarang semua semu, menyemu perlahan-lahan dan
mematikan perasaan, menumbuhkan rindu yang terikat erat, aku gaktau apa
sebabnya. Kesemu-an terjadi begitu saja tanpa memberi aku kesempatan untuk
mencari yang lain. Kamu membiarkan aku berusaha dalam ke-diam-anku.
Rindu tetap tertarik erat oleh semesta yang belum memberi kesempatan untuk kita. Saat api mars dan angin Pluto berhembus dan membawa kamu pergi aku sadar mereka meninggalkan sesuatu yang lebih dari kamu. Kamu pergi tapi kamu lupa bawa rindu ini pergi dan sampai akhirnya rindu ini terkorosi hanya menjadi memori. Kenanangan. Indah memang tapi ya gitudeh … abstrak!