Menunggu tanpa berusaha sama
saja dengan hampa, ku tunggu kamu mengucapkan kata indah itu,indah bila diucap
dari lekukan bibirmu , walaupun tanda-tanda hal itu tidak pernah terlihat di
bola mataku(sedikitpun) tapi apa yang terjadi? Aku tetap mengamatimu,
perhatikan setiap tingkah anehmu yang senada dengan putaran jarum jam yang
tidak berhenti sampai tenaga batre ini habis. Lelah,letih,bosan, sudah seperti
pemandangan yang tidak asing lagi. Sering tenaga ini habis tapi banyak hal yang
menjadi alasanku untuk tetap menunggumu, entah ini rasa obsesi kagum semata atau
benar-benar cinta yang akan saya jadikan alasan.
bukan alasan semata-mata yang mengokohkan bangunan komitmen ini, namun juga sebagai pondasi nanti jika saya sudah merdeka, merdeka dalam hal saya sudah berhenti menunggu, berhenti berjuang, dan ketika saya menyatakan proklamasi yang menempuh berapa kali putaran jarum jam ini,
tidak sedikit insan berargumen, menununggu hanyalah hal bodoh, hal sia-sia, dan banyak dari mereka yang menarik saya dari hal ini, namun dengan kokoh saya tetap membangun pondasi saya untuknya(nanti). Karna saya tahu menunggu yang saya alami bukan hanya menunggu ucapan yang saya tuju, tapi melainkan menunggunya melepaskan,membuang,dan membakar sampai benar-benar kosong tak berisi perasaan dalam hatinya untuk seorangpun, dan disaat itulah usaha saya akan dimulai, usaha mengisi, menghadirkan, sesosok yang baru, yaitu sesosok diri saya yang sudah memahaminya sejak saya punya rasa untuk ingin mengenalnya.
namun saya tidak sepercaya diri seperti mereka yang sudah berkebiasaan melakukan hal ini. Karna bukan rasa yang bisa dibagi yang saya tunggu, melainkan rasa yang utuh,penuh untuk saya. Bisa tidak bisa saya tetap yakin untuk membentuk itu semua, saya yakin bukan hanya sekedar yakin tapi saya juga mempunyai kunci dari perjuangan saya, yaitu “sabar dan iman” hanya orang yang meyakininya yang bisa menggunakan kunci ini. Dan saya yakin dengan bersabar saya bisa mendapatkan kemerdekaan yang seutuhnya. dan pastinya indah bukan buah dari kemerdekaan saya? – “sabar berakhir manis”
bukan alasan semata-mata yang mengokohkan bangunan komitmen ini, namun juga sebagai pondasi nanti jika saya sudah merdeka, merdeka dalam hal saya sudah berhenti menunggu, berhenti berjuang, dan ketika saya menyatakan proklamasi yang menempuh berapa kali putaran jarum jam ini,
tidak sedikit insan berargumen, menununggu hanyalah hal bodoh, hal sia-sia, dan banyak dari mereka yang menarik saya dari hal ini, namun dengan kokoh saya tetap membangun pondasi saya untuknya(nanti). Karna saya tahu menunggu yang saya alami bukan hanya menunggu ucapan yang saya tuju, tapi melainkan menunggunya melepaskan,membuang,dan membakar sampai benar-benar kosong tak berisi perasaan dalam hatinya untuk seorangpun, dan disaat itulah usaha saya akan dimulai, usaha mengisi, menghadirkan, sesosok yang baru, yaitu sesosok diri saya yang sudah memahaminya sejak saya punya rasa untuk ingin mengenalnya.
namun saya tidak sepercaya diri seperti mereka yang sudah berkebiasaan melakukan hal ini. Karna bukan rasa yang bisa dibagi yang saya tunggu, melainkan rasa yang utuh,penuh untuk saya. Bisa tidak bisa saya tetap yakin untuk membentuk itu semua, saya yakin bukan hanya sekedar yakin tapi saya juga mempunyai kunci dari perjuangan saya, yaitu “sabar dan iman” hanya orang yang meyakininya yang bisa menggunakan kunci ini. Dan saya yakin dengan bersabar saya bisa mendapatkan kemerdekaan yang seutuhnya. dan pastinya indah bukan buah dari kemerdekaan saya? – “sabar berakhir manis”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar